Kalau Bisa Terus-Menerus,Mengapa Harus Tergesa-gesa
Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambaNya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosulul Islam, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat Beliau Rodhiyallahu ‘anhum.
Ada dua hal yang sering terlupakan oleh kaum muslimin pada umumnya dalam masalah berdo’a, yaitu tergesa-gesa dalam meminta pengabulan do’a dan tidak terus menerus dalam berdo’a. padahal hal ini merupakan dua hal dari sekian banyak hal yang harus diperhatikan oleh seorang abdullah (hamba Allah) ketika ia berdo’a. Untuk itulah kami sedikit kupas masalah ini sekadar kemampuan dan ilmu yang ada pada kami.
Pertama, tergesa-gesa dalam do’a, Imam Al Muhaqqiq Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rohmatullah ‘alaihi rahmatan wasi’an- mengatakan dalam kitabnya Ad Daa’u wad Dawaa’u[1],
“salah satu kesalahan yang menghalangi adanya atsar/bekas dari do’a adalah seorang hamba tergesa-gesa dalam berdo’a. Ia menganggap Allah lambat mengabulkan do’anya yang akhirnya ia meninggalkan berdo’a kepada Allah” –sekian perkatan Beliau-.
Maka penyakit tergesa-gesa dalam berdo’a ini akhirnya akan melahirkan penyakit yang parah bahkan teramat parah dari yang sebelumnya yaitu, meninggalkan berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla –wal iyyadzu billah-. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala murka kepada orang yang enggan berdo’a kepadaNya, yang mana hal ini tegas sebagaimana Allah firmankan dalam Al Qur’anul Adzim,
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdo’a[2] kepadaKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina”.
(QS : Al Mu’min [40] : 60).
Setelah kita paham bagaimana buruknya sikap tergesa-gesa dalam do’a, lalu pertanyaan yang mungkin ada di benak kita adalah ‘Apa bentuk tergesa-gesa dalam berdo’a?’ Maka jawabnya sebagaimana hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Akan dikabulkan (do’a) masing-masing kalian selama ia tidak tergesa-gesa dalam do’anya, (dengan) dia mengatakan, ‘Aku telah berdo’a namun (Allah) tidak mengabulkannya untukku’”[3].
Demikian juga sabda Al Mushthofa Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,
لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ
“Senantiasa akan dikabulkan (permintaan/doa) seorang hamba selama dia tidak berdo’a dalam perkara dosa/itsm[4], perkara yang memutus silaturrahim, serta selama tidak tergesa-gesa dalam do’anya”. Salah seorang sahabat bertanya, ‘Apa yang dimaksud ketergesa-gesaan dalam do’a Ya Rasulullah?’ Beliau mengatakan, “dia mengatakan aku telah berdo’a, aku telah berdo’a namun aku tidak melihat Allah mengabulkannya untukku’ kemudian ia pun berpaling dan meninggalkannya[5]”[6].
Demikian juga dalam hadits yang terdapat dalam musnad Al Imam Ahmad rahimahullah melalui sahabat Anas Rodhiyallahu ‘anhu,
لَا يَزَالُ الْعَبْدُ بِخَيْرٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يَسْتَعْجِلُ قَالَ يَقُولُ دَعَوْتُ رَبِّي فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي
“Senantiasa seorang hamba berada dalam kebaikan selama ia tidak tergesa-gesa (dalam do’anya pent.)”. Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa (dalam do’a pent. ) wahai Rasulullah?” Beliau mengatakan, “Aku telah berdo’a kepada Robbku akan tetapi Dia tidak mengabulkan permintaanku”[7].
Maka lihatlah wahai saudaraku betapa buruknya dua penyakit ini dan betapa buruknya akibatnya. Ia begitu sering terlihat di depan mata kita sedangkan akibatnya teramat sangat parah yaitu berpalingnya seorang hamba dari berdo’a kepada Robbnya padahal Dialah pemilik alam semesta beserta isinya dan hilangnya kebaikan dari dirinya.
Penyakit yang Kedua, tidak terus menerus dalam berdo’a, Al Imam Al Muhaqqiq Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rohmatullah ‘alaihi rahmatan wasi’an- mengatakan dalam kitab yang sama[8], “Diantara obat yang penawar yang paling bermanfaat adalah terus menerus dalam berdoa”. Kemudian Beliau rahimahullah membawakan hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,
مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, (Allah akan) murka padanya”[9]. Sampai disini perkataan Beliau.
Yang dimaksud dengan (مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ) dalam hadits ini adalah tidak mau berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala & tidak mau meminta fadhilah/keutamaan dariNya[10]. Sedangkan yang dimaksud dengan (يَغْضَبْ عَلَيْهِ) “(Allah akan) murka padanya” adalah sebagaimana kata Al Munawi rahimahullah dalam Faidhul Qodhir, hal ini (Allah Ta’ala murka kepadanya) dapat disebabkan karena ia berputus asa (dari do’a, pent.) atau boleh jadi karena ia sombong/enggan berdo’a kepada Allah Jalla Jalaluh dan setiap orang yang memiliki salah satu saja dari dua hal di atas maka Allah akan murka kepadanya”[11].
Maka dari hadits Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia ini kita dapat pahami bahwa salah satu bentuk kesalahan dalam bedo’a adalah tidak terus menerus dalam do’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan sebaliknya Allah ‘Azza wa Jalla mencintai orang yang senantiasa berdo’a kepadaNya. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ المُلِحِّيْنَ فِيْ الدُّعَاءِ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang terus menerus (senantiasa ) dalam berdo’a”.[12]
Sebagai penutup kami nukilkan perkataan salah seorang salaf yaitu Muwariq, Beliau mengatakan,
“Aku tidaklah pernah mendapatkan permisalan bagi seorang mu’min (dalam berdo’apent. ) kecuali sebagaimana seorang laki-laki yang berada di atas kayu di tengah laut yang ia berdo’a ‘Wahai Robbku, wahai Robbku’ ia berharap Allah ‘Azza wa Jalla menyelematkannya sampai ke daratan”[13].
Mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat bagi kami dan pembaca sekalian, Allahu A’lam bish Showab.
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
SEO

0 Response to "Kalau Bisa Terus-Menerus,Mengapa Harus Tergesa-gesa"
Posting Komentar